Rabu, 09 Mei 2012

Gegeh Kiniteken



         Goliat, Panglima Pilistin, erperang alu ngasamken gegehna saja. Dagingna si mbelin mbestang erbajuken ras ertopiken besi, tahan takil tah ilembing. Daud si umurna nguda denga, la erpengalamen ibas perang. Alu make paken permakan saja Daud ngelawan Goliat alu maba 5 ngkibul batu rikut kalimbawang. Tapi la keberadanna e penalemenna tapi gegeh kinitekenna asamna banci naluken musuhna e. Batu kalimbawangna e melesit ndempar perdempaken Goliat si sitikkal ngenca terbuka e seh limberen Goliat dingen guling. I jem Daud ndungi kegeluhen ras kembisaan Goliat nggeleh kerahungna alu pedangna sendiri.
         Tapi labo erkiteken naluken musuh ukurta meriah ntah meganjang. Ermeriah erkiteken gelarndu enggo isuratken (Oge: Luk. 10:17-20). Ertina kam enggo ipake Dibata.
         Ula mbiar, sebab Dibata tetap ngkelini kita (oge: Jesaya 43:1-7). Gegeh kinitekenta mabai kita sue bagi isuruh Dibata. Kemenangen me si kerajangta erkiteken makeken senjata gegeh kiniteken.
         Nen Goliat, nen Namrud ibas Pustaka. Kuga hebatna Hitler, tentera Jepang paksa PD.II. Nen G.30 S/PKI, Komunisme internasional. kerina e erpenalemken gegehna saja, jadina kerina lenyap la nai erbeteh.
         Tangkas dage man banta, kita kalak Kristen lit senjatanta si ampuh. Ngasup naluken kalak si megombang man Dibata. Alu gegeh kinitekenta nge ngerintak ku kebenaren Tuhan. Mpersada kita sikeleng-kelengen.
         Si nggeluhken geluhna alu gegeh kiniteken, ipake Dibata guna kemulianNa. Sangap me kam. Amin.

Pertoton                  :     Tuhan pakekenlah kami guna kemuliaNdu. Amin
Pokok Pikiren        :     Gegeh kiniteken naruhken kegeluhenta ku kemalamen ate.
Doa Syafat             :     Kalak si tertindas erkiteken kiniteken.
                                                                                                            Y. Sinuraya

Selasa, 08 Mei 2012

TUMBUH LEWAT PERSEKUTUAN


AddThis Social Bookmark Button
Baca: Kolose 3:5-17

...Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12)


Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 38-40


Setelah dibaptis, Pakhomius serius ingin bertumbuh. “Bertapalah. Itu cara terampuh,” nasihat seorang biarawan. Di tahun 315 M, tradisi bertapa memang marak. Orang memisahkan diri dari masyarakat yang korup. Menyendiri di gurun. Berdoa dan puasa. Setelah mencoba, Pakhomius merasa itu tidak tepat. “Bagaimana bisa belajar rendah hati, jika hidup sendiri? Bagaimana belajar bersabar, tanpa menjumpai sesama?” Ia pun berhenti bertapa dan mengembangkan spiritualitas persekutuan. Menurutnya, orang bertumbuh dalam pergaulan, bukan kesendirian.

Paulus memotret sifat-sifat manusia baru, antara lain: belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran (ayat 12). Ini buah kehidupan bersama. Belas kasihan dan kemurahan muncul saat melihat kebutuhan sesama. Kerendahan hati terbentuk saat menjumpai kelebihan orang lain. Kelemahlembutan dan kesabaran teruji saat berhadapan dengan hal-hal yang menyakitkan. Jemaat Kolose terdiri dari berbagai macam orang yang disatukan dalam kasih Kristus (ayat 11). Orang-orang “sulit” jelas ada (ayat 13). Namun, mereka diminta tetap bersatu (ayat 14). Tidak meninggalkan persekutuan. Di situlah terjadi proses pembentukan. Lewat konflik, orang saling menegur dan bertumbuh (ayat15-16).

Adakah orang yang kerap menjengkelkan Anda? Atau, Anda kecewa dengan perilaku orang-orang sulit di gereja? Ingatlah bahwa melalui mereka, sifat-sifat Anda kian diasah dan dibentuk Tuhan sebagai orang-orang pilihan-Nya. Jadi, bertahanlah! Sambut pembentukan Tuhan melalui persekutuan dengan hati bersyukur! —JTI

TANPA BELAJAR HIDUP SEHATI
TIADA PERTUMBUHAN IMAN SEJATI

Senin, 07 Mei 2012

“TETAPI” YANG KUDUS


AddThis Social Bookmark Button
Baca: Habakuk 3

... namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Habakuk 3:18)


Bacaan Alkitab Setahun:
Mazmur 25, 29, 33, 36, 39


Rasanya kita kerap mendengar pernyataan seperti ini, “Pak Pendeta A itu sebenarnya pintar, tetapi khotbahnya sulit dimengerti.” Awalnya pujian, ujungnya kritikan, dijembatani kata sambung tetapi. Orang itu bermaksud mengkritik, tetapi menghaluskannya dengan melontarkan pujian dulu. Maksud utamanya ya pernyataan sesudah kata tetapi itu: kritikan.

Alkitab juga banyak memuat “jembatan “tetapi”, namun dengan maksud yang sama sekali berbeda. Ratapan Habakuk, misalnya. Nabi ini meratapi kondisi bangsanya yang memprihatinkan. Ia tidak menyanggah kenyataan kasat mata yang memilukan dan mengecewakan di sekitarnya. Pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang (ayat 17). Hanya saja, ia tidak berkutat di situ. Dengan meniti “jembatan tetapi”, ia mengarahkan pandangan pada penyelamatan dan pemeliharaan Allah: “... namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan” (ayat 18). Kita dapat menyebutnya sebagai “tetapi yang kudus” dan kita dapat menerapkannya dalam keseharian kita.

Anda menghadapi kondisi yang mengecewakan, tidak sesuai dengan harapan Anda? Anda tidak perlu melarikan diri dari kenyataan ini; Anda hanya perlu meniti “jembatan tetapi” untuk mengarahkan pandangan pada kebenaran Allah. Misalnya, “Tuhan, aku sulit mengampuni si A dan aku tahu aku tidak mampu mengampuninya dengan kekuatanku sendiri. Tetapi, kasih-Mu begitu besar dan tidak terbatas. Alirkanlah kasih-Mu itu melalui diriku.” Maka, seperti terang mengusir kegelapan, kebenaran Allah yang kekal pada akhirnya akan menelan kenyataan yang fana.—ARS

HADAPI KENYATAAN HIDUP
DENGAN BERFOKUS PADA KEBENARAN TUHAN


Rabu, 02 Mei 2012

Kepahitan

Kepahitan merugikan diri sendiri...



Pernahkah Anda dilukai oleh orang lain dimasa lalu?
Jika ya, sudahkah Anda telah terlepas dari rasa sakit ? atau luka tersebut terus tertoreh di dalam hati Anda?

Disakiti atau diperlakukan tidak adil merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi diri kita bila hal tersebut terjadi dalam kehidupan kita.

Saat disakiti kita dapat memilih untuk terus mencengkeram rasa sakit dan menjadi pahit hati. Hidup kita

Selasa, 01 Mei 2012

Cinta Sejati


Inspirational Story for couple :)

Pada suatu hari Aristoteles bertanya pd Gurunya : "Apakah Cinta Sejati itu?"
Guru:  Berjalanlah lurus di taman Bunga yg Luas, Petiklah 1 bunga yg Terindah menurutmu, Dan jangan pernah berbalik ke belakang !
Kemudian Aristoteles melaksanakannya dan kembali dgn tangan hampa..
Guru: mana Bunganya?

Aristotles menjawab: Aku tidak bisa mendapatkannya, sebenarnya aku telah menemukannya, tapi aku