Selasa, 26 Februari 2013

HATI YANG HANCUR: Berharga Di Hadapan Tuhan!

 

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Februari 2013 -



"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."  Mazmur 51:19

Sebelum menjadi bejana yang indah dan berharga, tanah liat harus mengalami proses pembentukan yang dikerjakan oleh seorang penjunan (tukang gerabah).  Tanah liat itu terlebih dahulu harus dihancurkan, dibuang kerikil-kerikilnya, lalu diolah dan harus melewati proses pembakaran.  Begitu juga dengan sebidang tanah.  Sebelum benih dapat disemaikan, seorang petani harus terlebih dahulu mengolah tanahnya dengan cangkul dan bajak, kemudian mengairinya dan barulah tanah tersebut siap untuk ditanami.

     Setiap anak Tuhan yang rindu dipakai sebagai alat kemuliaan Tuhan tak luput dari proses pembentukan.  "Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu."  (Yesaya 64:8).  Jadi,  "Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'"  (Yesaya 45:9b).  Tidak!  Kita harus memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan.  Hati yang remuk dan hancur di hadapan Tuhan, serta memiliki rasa haus dan lapar akan Dia adalah modal menggerakan hati Tuhan, bukan hati yang dipenuhi kesombongan atau kecongkakan, sebab  "Allah menentang orang yang congkak,"  (1 Petrus 5:5), dan Dia  "...akan mematahkan kecongkakkan mereka dengan segala daya upaya mereka."  (Yesaya 25:11b).

     Daud saat menulis mazmur ini dalam keadaan hati remuk redam dan hancur berkeping-keping, menyesali dosanya terhadap isteri Uria;  lalu ia pun datang kepada Tuhan.  "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!"  (Mazmur 51:3).  Inilah korban yang berkenan kepada Tuhan.  Tak ada yang lebih berharga di mata Tuhan kecuali hati yang hancur dan pertobatan,  "Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya."  (Mazmur 51:18).

     Masih banyak orang Kristen yang datang kepada Tuhan (berdoa) tanpa pernah merasakan hati hancur, doa yang dinaikkan tidak lahir dari lubuk hatinya yang terdalam

Hidup menyimpang dari jalan Tuhan dianggap biasa sehingga penyesalan diri pun tiada;  janganlah kita demikian.


Jumat, 09 November 2012

BEDA SELERA


 

Baca: Lukas 19:1-10

Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa. (Lukas 19:7)


Bacaan Alkitab Setahun:
Pengkhotbah 7-12


 Coba bayangkan kejadian ini. Suatu malam kita melihat seorang pendeta sedang duduk bercengkerama dengan para pemuda di pos ronda. Apa reaksi spontan kita? Kita merasa tidak nyaman karena berpendapat bahwa pendeta tersebut tidak bisa menjaga wibawanya. Ataukah kita merasa senang dan kagum karena ada seorang rohaniwan yang bersedia membaur dengan orang kebanyakan?  

Menarik sekali untuk mencari tahu mengapa orang banyak bersungut-sungut terhadap keputusan Tuhan Yesus yang akan menginap di rumah Zakheus (ayat 7). Pastilah karena mereka tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Hati mereka terusik karena mereka tahu siapa itu Zakheus. Mereka berkeyakinan bahwa tidak sepatutnya orang saleh bergaul rapat dengan orang yang mereka anggap kurang baik hidupnya. Celakanya lagi mereka dengan cepat menganggap dirinya ada di kubu orang saleh, sehingga mereka sangat terganggu. Di sinilah akar masalahnya. Mereka memiliki cara pandang yang berseberangan dengan Tuhan Yesus. Ironisnya, mereka berharap Tuhan Yesus-lah yang menyesuaikan diri dengan cara berpikir mereka, dan bukan sebaliknya.
Apakah kita sering merasa terganggu dengan apa yang Allah putuskan? Apakah kita sering merasa tidak mengerti jalan pikiran dan tindakan Allah, lalu kita bersungut-sungut? Kalau keyakinan kita banyak yang berseberangan dengan Allah, kita akan banyak menemukan konflik dengan-Nya. Mari kita lihat ulang keyakinan-keyakinan kita. Lalu bandingkan dengan isi hati Allah. Ketika ada yang tidak sejalan dengan selera-Nya, kitalah yang perlu menyesuaikan diri dengan-Nya. Bukan sebaliknya!—PBS


KETIKA KITA BERBEDA SELERA DENGAN ALLAH,
KITA AKAN MENGHADAPI BANYAK MASALAH.


Rabu, 22 Agustus 2012

MENDENGARKAN PERTIMBANGAN


AddThis Social Bookmark Button
Baca: Amsal 18:1-24Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan. (Amsal 18:1)Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 51-52

Pernahkah Anda merasa enggan sekali bertemu orang lain? Saya cukup sering merasakannya, terutama ketika harus menghadapi orang-orang yang menurut saya menjengkelkan dan kurang menghargai saya. Apalagi jika orang-orang itu pernah terlibat konflik dengan saya. Pada situasi seperti itu, saya lebih suka menyendiri dan mengerjakan hal-hal yang saya sukai.

Meskipun adakalanya kita butuh waktu untuk sendirian, kita perlu berhati-hati dengan kecenderungan menarik diri dari pergaulan. Dengan terus terang, penulis kitab Amsal mengungkapkan tabiat buruk di balik keinginan mengasingkan diri itu. Orang yang menyendiri cenderung memikirkan dirinya semata. Orang lain menjadi gangguan baginya. Kritik dan nasihat, yang bijak sekalipun, ditanggapi dengan kemarahan. Mereka lebih suka berdebat dan mengungkapkan kejengkelannya daripada mendengarkan orang lain. Perilaku demikian bukanlah tindakan yang bijak (ayat 13). Sebaliknya, orang yang bijak adalah yang bersedia mendengarkan kata-kata hikmat (ayat 15), sekalipun ada kalanya hal itu dinyatakan dalam bentuk teguran yang pedas. Mendengarkan orang lain juga melatih kita untuk bersikap rendah hati (lihat ayat 12).

Ketika kita mendengarkan sikap dan kata-kata orang lain yang tidak kita sukai, usahakan untuk tidak serta-merta membantahnya. Sebaliknya, dengarkan lebih banyak apa yang ingin dikatakan oleh lawan bicara kita. Bukalah hati Anda lebar-lebar, renungkan apa yang Anda dengar. Anda akan kagum mengalami bagaimana melalui beragam orang di sekitar Anda, Tuhan menolong Anda memperoleh pengetahuan untuk hidup lebih baik.—HEM 
MARAH SEBELUM MENDENGARKAN MENUTUP PINTU PENGERTIAN.
MENDENGARKAN PERTIMBANGAN MEMBUKA PINTU KEBIJAKSANAAN.



Jumat, 20 Juli 2012

BERTARUNGLAH SAMPAI MENANG


1 Timotius 6:11-13; Mazmur 27:3
”Bertandinglah [fight - bertarunglah] dalam pertandingan iman yang benar [the good fight of faith- pertarungan iman yang baik] dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi” (1 Timotius 6:12).
        Bila seorang petinju ingin meraih sabuk bergengsi dunia seperti kelas berat dunia WBC, WBA atau IBF dia harus terlebih dahulu bertarung di atas ring. Hanya mereka yang bisa bertarung dengan bagus dan benar yang bisa menjadi juara dunia tinju di kelas apa saja.  Pertarungan adalah tempat yang tepat untuk membuktikan siapa sang juara dan siapa si pecundang.

        Tahukah Anda, kita juga memiliki pertarungan. Pertarungan yang kita miliki bukan pertarungan tinju atau olah raga lainnya, tetapi pertarungan iman dan kita harus bertarung dengan baik bila kita ingin hidup kita selalu berkemenangan. Kita bertarung bukan untuk merebutkan sabuk atau piala tetapi mempertahankan iman kita. Mengapa? Karena iman yang kita miliki di dalam roh kita dicobai atau ditantang oleh musuh kita [iblis] melalui keadaan, situasi dan masalah yang ada di sekeliling kita. Tujuannya adalah supaya kita tidak mempercayai bahwa janji-janji Allah itu ”Ya” dan ”Amin.”
        Bila Anda membutuhkan kesembuhan atas penyakit Anda tentunya hanya melalui iman Anda bisa mendapatkannya. Tetapi sebelum kesembuhan itu Anda terima, situasi di sekitar Anda sering tidak mendukung iman Anda. Penyakit Anda bukan bertambah baik, tetapi bertambah buruk. Bahkan dokter berkata, ”Penyakit Anda tidak mungkin disembuhkan.” Pada hal iman Anda berkata, ”Oleh bilur-bilur Yesus aku telah disembuhkan.” Bila ini yang sedang terjadi Anda harus mulai ”Bertandinglah [fight - bertarunglah] dalam pertandingan iman yang benar [the good fight of faith - pertarungan iman yang baik].” Anda harus terus menerus berdiri dan menggunakan iman Anda untuk mengalahkan keadaan atau situasi yang bertentangan dengan janji-janji Allah yang Anda percayai sampai apa yang Allah janjikan itu yaitu kesembuhan datang dalam hidup Anda. Itulah yang disebut ”pertarungan iman yang baik.”
        Bukan hanya untuk janji kesembuhan saja, iman Anda bisa dipergunakan untuk semua janji Allah. ”Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: IMAN kita” (1 Yoh. 5:4).
Renungan:
        Iblis tidak perlu Anda kalahkan sebab dia sudah dikalahkan Yesus Kristus 2000 tahun lalu. Bagian Anda sekarang adalah mendesak dia (iblis) dengan segala triknya untuk keluar dari zona berkat-berkat Allah yang telah disediakan bagi Anda. Jangan biarkan dia menipu Anda!
Iman yang sejati adalah iman yang mengalahkan dunia.

Minggu, 01 Juli 2012

MANA LEBIH AJAIB?



Baca: Yohanes 20:19-29

Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya (Yohanes 20:29)


Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 1-4


Ketika belia, Corrie ten Boom (wanita Belanda yang banyak menyelamatkan kaum Yahudi dari kekejaman Nazi) mendengar Sadhu Sundar Singh bersaksi. Ketika kecil, Sadhu pernah membenci Yesus, membakar Alkitab, melempari misionaris dengan lumpur. Ia meminta Tuhan menampakkan diri jika Dia memang ada. Sadhu ingin tahu apa benar ada surga dan kehidupan setelah mati. Untuk membuktikannya, ia berpikir harus mati dulu. Maka, ia berencana menabrakkan diri pada kereta api yang melaju. Tiba-tiba cahaya menyilaukan melingkupinya. Dan, seorang laki-laki bertanya, sampai kapan ia akan menyangkal Tuhan yang telah mati baginya. Sadhu melihat lubang di tangan laki-laki itu.

Mendengar kesaksian itu, Corrie ingin mengalaminya juga, agar hidupnya mengiring Tuhan tak ”membosankan”. Namun, saat Corrie menyampaikan hal ini, Sadhu menjawab bahwa sesungguhnya pengalaman Corrie lebih ajaib dibanding pengalamannya: ”Saya harus melihat Yesus supaya bisa percaya, sedangkan Anda sudah memercayai Dia tanpa harus melihat.”

Kata Yesus kepada Tomas: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29). Sedikit murid bisa bertemu Yesus secara langsung. Namun, lebih banyak yang tak bertemu langsung. Itu sebabnya teguran Yesus kepada Tomas mewakili setiap kita yang belum pernah melihat Tuhan kasatmata. Tuhan menegaskan bahwa bukan itu yang terpenting. Melainkan, apakah kita sungguh bersuka karena Tuhan kita ada dan hidup. Dan, secara pribadi mengalami bagaimana Dia hadir serta dekat dengan kita—dalam peristiwa besar maupun kecil di hidup kita —AW

APAKAH TUHAN TAMPAK SECARA KASAT MATA ATAU TIDAK
YANG TERPENTING DIA ADA, DEKAT, BAHKAN MELINGKUPI KITA