Kamis, 14 Maret 2013
Selasa, 26 Februari 2013
HATI YANG HANCUR: Berharga Di Hadapan Tuhan!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Februari 2013 -
Baca: Mazmur 51:1-21
"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." Mazmur 51:19
Sebelum menjadi bejana yang indah dan berharga, tanah liat harus
mengalami proses pembentukan yang dikerjakan oleh seorang penjunan
(tukang gerabah). Tanah liat itu terlebih dahulu harus dihancurkan,
dibuang kerikil-kerikilnya, lalu diolah dan harus melewati proses
pembakaran. Begitu juga dengan sebidang tanah. Sebelum benih dapat
disemaikan, seorang petani harus terlebih dahulu mengolah tanahnya
dengan cangkul dan bajak, kemudian mengairinya dan barulah tanah
tersebut siap untuk ditanami.
Setiap anak Tuhan yang rindu dipakai sebagai alat kemuliaan Tuhan tak luput dari proses pembentukan. "Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." (Yesaya 64:8). Jadi, "Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'"
(Yesaya 45:9b). Tidak! Kita harus memiliki penyerahan diri penuh
kepada Tuhan. Hati yang remuk dan hancur di hadapan Tuhan, serta
memiliki rasa haus dan lapar akan Dia adalah modal menggerakan hati
Tuhan, bukan hati yang dipenuhi kesombongan atau kecongkakan, sebab "Allah menentang orang yang congkak," (1 Petrus 5:5), dan Dia "...akan mematahkan kecongkakkan mereka dengan segala daya upaya mereka." (Yesaya 25:11b).
Daud saat menulis mazmur ini dalam keadaan hati remuk redam dan
hancur berkeping-keping, menyesali dosanya terhadap isteri Uria; lalu
ia pun datang kepada Tuhan. "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!"
(Mazmur 51:3). Inilah korban yang berkenan kepada Tuhan. Tak ada yang
lebih berharga di mata Tuhan kecuali hati yang hancur dan pertobatan, "Sebab Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan; sekiranya kupersembahkan korban bakaran, Engkau tidak menyukainya." (Mazmur 51:18).
Masih banyak orang Kristen yang datang kepada Tuhan (berdoa) tanpa
pernah merasakan hati hancur, doa yang dinaikkan tidak lahir dari lubuk
hatinya yang terdalam
Hidup menyimpang dari jalan Tuhan dianggap biasa sehingga penyesalan diri pun tiada; janganlah kita demikian.
Jumat, 09 November 2012
BEDA SELERA
- Ditulis oleh Petrus Budi Setyawan
Baca: Lukas 19:1-10
Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa. (Lukas 19:7)
Bacaan Alkitab Setahun:
Pengkhotbah 7-12
Melihat hal itu, semua orang mulai bersungut-sungut, katanya, “Ia menumpang di rumah orang berdosa. (Lukas 19:7)
Bacaan Alkitab Setahun:
Pengkhotbah 7-12
Coba bayangkan kejadian ini. Suatu malam kita melihat seorang pendeta sedang duduk bercengkerama dengan para pemuda di pos ronda. Apa reaksi spontan kita? Kita merasa tidak nyaman karena berpendapat bahwa pendeta tersebut tidak bisa menjaga wibawanya. Ataukah kita merasa senang dan kagum karena ada seorang rohaniwan yang bersedia membaur dengan orang kebanyakan?
Menarik sekali untuk mencari tahu
mengapa orang banyak bersungut-sungut terhadap keputusan Tuhan Yesus
yang akan menginap di rumah Zakheus (ayat 7). Pastilah karena mereka
tidak sepakat dengan keputusan tersebut. Hati mereka terusik karena
mereka tahu siapa itu Zakheus. Mereka berkeyakinan bahwa tidak
sepatutnya orang saleh bergaul rapat dengan orang yang mereka anggap
kurang baik hidupnya. Celakanya lagi mereka dengan cepat menganggap
dirinya ada di kubu orang saleh, sehingga mereka sangat terganggu. Di
sinilah akar masalahnya. Mereka memiliki cara pandang yang berseberangan
dengan Tuhan Yesus. Ironisnya, mereka berharap Tuhan Yesus-lah yang
menyesuaikan diri dengan cara berpikir mereka, dan bukan sebaliknya.
Apakah
kita sering merasa terganggu dengan apa yang Allah putuskan? Apakah
kita sering merasa tidak mengerti jalan pikiran dan tindakan Allah, lalu
kita bersungut-sungut? Kalau keyakinan kita banyak yang berseberangan
dengan Allah, kita akan banyak menemukan konflik dengan-Nya. Mari kita
lihat ulang keyakinan-keyakinan kita. Lalu bandingkan dengan isi hati
Allah. Ketika ada yang tidak sejalan dengan selera-Nya, kitalah yang
perlu menyesuaikan diri dengan-Nya. Bukan sebaliknya!—PBS
KETIKA KITA BERBEDA SELERA DENGAN ALLAH,
KITA AKAN MENGHADAPI BANYAK MASALAH.
KITA AKAN MENGHADAPI BANYAK MASALAH.
Rabu, 22 Agustus 2012
MENDENGARKAN PERTIMBANGAN
Baca: Amsal 18:1-24Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan. (Amsal 18:1)Bacaan Alkitab Setahun:
Yeremia 51-52
Pernahkah Anda merasa enggan sekali bertemu orang lain? Saya cukup sering merasakannya, terutama ketika harus menghadapi orang-orang yang menurut saya menjengkelkan dan kurang menghargai saya. Apalagi jika orang-orang itu pernah terlibat konflik dengan saya. Pada situasi seperti itu, saya lebih suka menyendiri dan mengerjakan hal-hal yang saya sukai.
Meskipun
adakalanya kita butuh waktu untuk sendirian, kita perlu berhati-hati
dengan kecenderungan menarik diri dari pergaulan. Dengan terus terang,
penulis kitab Amsal mengungkapkan tabiat buruk di balik keinginan
mengasingkan diri itu. Orang yang menyendiri cenderung memikirkan
dirinya semata. Orang lain menjadi gangguan baginya. Kritik dan nasihat,
yang bijak sekalipun, ditanggapi dengan kemarahan. Mereka lebih suka
berdebat dan mengungkapkan kejengkelannya daripada mendengarkan orang
lain. Perilaku demikian bukanlah tindakan yang bijak (ayat 13).
Sebaliknya, orang yang bijak adalah yang bersedia mendengarkan kata-kata
hikmat (ayat 15), sekalipun ada kalanya hal itu dinyatakan dalam bentuk
teguran yang pedas. Mendengarkan orang lain juga melatih kita untuk
bersikap rendah hati (lihat ayat 12).
Ketika
kita mendengarkan sikap dan kata-kata orang lain yang tidak kita sukai,
usahakan untuk tidak serta-merta membantahnya. Sebaliknya, dengarkan
lebih banyak apa yang ingin dikatakan oleh lawan bicara kita. Bukalah
hati Anda lebar-lebar, renungkan apa yang Anda dengar. Anda akan kagum
mengalami bagaimana melalui beragam orang di sekitar Anda, Tuhan
menolong Anda memperoleh pengetahuan untuk hidup lebih baik.—HEM
MARAH SEBELUM MENDENGARKAN MENUTUP PINTU PENGERTIAN.
MENDENGARKAN PERTIMBANGAN MEMBUKA PINTU KEBIJAKSANAAN.
MENDENGARKAN PERTIMBANGAN MEMBUKA PINTU KEBIJAKSANAAN.
Jumat, 20 Juli 2012
BERTARUNGLAH SAMPAI MENANG
1 Timotius
6:11-13; Mazmur 27:3
”Bertandinglah
[fight - bertarunglah] dalam pertandingan iman yang benar [the good fight of
faith- pertarungan iman yang baik] dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah
engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan
banyak saksi” (1 Timotius 6:12).
Bila seorang petinju ingin meraih sabuk
bergengsi dunia seperti kelas berat dunia WBC, WBA atau IBF dia harus terlebih
dahulu bertarung di atas ring. Hanya mereka yang bisa bertarung dengan bagus
dan benar yang bisa menjadi juara dunia tinju di kelas apa saja. Pertarungan adalah tempat yang tepat untuk
membuktikan siapa sang juara dan siapa si pecundang.
Tahukah Anda, kita juga memiliki
pertarungan. Pertarungan yang kita miliki bukan pertarungan tinju atau olah
raga lainnya, tetapi pertarungan iman dan kita harus bertarung dengan baik bila
kita ingin hidup kita selalu berkemenangan. Kita bertarung bukan untuk
merebutkan sabuk atau piala tetapi mempertahankan iman kita. Mengapa? Karena
iman yang kita miliki di dalam roh kita dicobai atau ditantang oleh musuh kita
[iblis] melalui keadaan, situasi dan masalah yang ada di sekeliling kita.
Tujuannya adalah supaya kita tidak mempercayai bahwa janji-janji Allah itu ”Ya”
dan ”Amin.”
Bila Anda membutuhkan kesembuhan atas
penyakit Anda tentunya hanya melalui iman Anda bisa mendapatkannya. Tetapi
sebelum kesembuhan itu Anda terima, situasi di sekitar Anda sering tidak
mendukung iman Anda. Penyakit Anda bukan bertambah baik, tetapi bertambah
buruk. Bahkan dokter berkata, ”Penyakit Anda tidak mungkin disembuhkan.” Pada
hal iman Anda berkata, ”Oleh bilur-bilur Yesus aku telah disembuhkan.” Bila ini
yang sedang terjadi Anda harus mulai ”Bertandinglah [fight -
bertarunglah] dalam pertandingan iman yang benar [the good fight of
faith - pertarungan iman yang baik].” Anda harus terus menerus berdiri
dan menggunakan iman Anda untuk mengalahkan keadaan atau situasi yang
bertentangan dengan janji-janji Allah yang Anda percayai sampai apa yang Allah
janjikan itu yaitu kesembuhan datang dalam hidup Anda. Itulah yang disebut
”pertarungan iman yang baik.”
Bukan hanya untuk janji kesembuhan saja,
iman Anda bisa dipergunakan untuk semua janji Allah. ”Sebab semua yang lahir
dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia:
IMAN kita” (1 Yoh. 5:4).
Renungan:
Iblis tidak perlu Anda kalahkan sebab
dia sudah dikalahkan Yesus Kristus 2000 tahun lalu. Bagian Anda sekarang adalah
mendesak dia (iblis) dengan segala triknya untuk keluar dari zona berkat-berkat
Allah yang telah disediakan bagi Anda. Jangan biarkan dia menipu Anda!
Iman
yang sejati adalah iman yang mengalahkan dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)



