Kamis, 31 Mei 2012

Bertobat Dengan Sungguh

PERMATA GBKP SEBERAYA... MEJUAH JUAH...KAMI MENERIMA SUMBANGAN BERUPA KRITIK DAN SARAN, BAHAN RENUNGAN, ARTIKEL KRISTEN, TUTORIAL BLOGGER DLL DARI PARA PEMBACA, KIRIM KE permatagbkpseberaya@gmail.com BUJUR TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA.AMIN


- Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 September 2009 -

Baca: Yehezkiel 33:1-20

"Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup karena itu." Yehezkiel 33:19

       Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, dosa dan tabiat dosa mengikuti dan menjadi bagian dalam diri manusia sehingga kita dilahirkan ke dalam dunia dengan segala kecenderungan hati untuk selalu melakukan kejahatan (baca Kejadian 6:5). Daud menyadari hal itu dan berkata, "Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:7). Jadi, sesungguhnya kita ini adalah manusia berdosa yang pantas untuk menerima hukuman.
   Namun kita patut bersyukur kepada Allah, Bapa kita, yang oleh karena kasihNya menganugerahkan PuteraNya, Yesus Kristus, untuk mati di salib. Darah Kristus mendamaikan kita dengan Allah, kita tidak lagi menjadi seteru Allah. Kristus "...telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran." (1 Petrus 2:24). Setelah menerima anugerah keselamatan kita harus dengan sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan. Kita harus bertobat dari dosa! Kita tidak dapat menerima anuegerah Tuhan lalu tetap tinggal dalam dosa, karena Tuhan telah mencurahkan anugerahNya sewaktu kita masih berdosa dan kini dosa kita telah diampuni dan kita disucikan. 
     Hidup dalam pertobatan itu suatu perintah, bukan sekedar himbauan! Kita harus dengan sadar meninggalkan dan menolak segala perbuatan dosa. Karena itu mari mencermati hidup kita, hal-hal apa yang sekiranya akan menyeret kita lebih jatuh ke dalam dosa: apakah lingkungan, tontonan atau bacaan yang negatif, serta pergaulan kita, sebab "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33) dan "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang." (Amsal 13:20). Semua perbuatan daging (baca Galatia 5:19-21) harus ditinggalkan.
     Kita harus berhenti berbuat dosa dan menghindarkan diri dari jebakan dosa itu. Kita memang masih hidup di dunia yang penuh dosa, namun kita harus memilih untuk hidup sesuai kehendak Tuhan setiap hari, karena pertobatan tidak dapat dilakukan hanya sekali seumur hidup, melainkan suatu proses terus-menerus dalam hidup kita.

Jika tidak sungguh-sungguh bertobat, kita akan binasa!
PERMATA GBKP SEBERAYA... MEJUAH JUAH...KAMI MENERIMA SUMBANGAN BERUPA KRITIK DAN SARAN, BAHAN RENUNGAN, ARTIKEL KRISTEN, TUTORIAL BLOGGER DLL DARI PARA PEMBACA, KIRIM KE permatagbkpseberaya@gmailcom. BUJUR TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA.AMIN

Selasa, 29 Mei 2012

Meminta Maaf

Baca: Matius 5:21-26
Sebab itu, jika engkau . . . teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, . . . pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu. —Matius 5:23-24

      Mark telah mengecewakan temannya. Ia datang terlambat di restoran tempat ia seharusnya bertemu dengan teman itu. Temannya tersebut telah pergi. Dengan penuh rasa penyesalan, Mark membeli sebuah kupon makan dari restoran tersebut dan berhenti di sebuah toko kartu setempat untuk mencari selembar kartu permintaan maaf. Ia pun heran, karena di antara ratusan kartu yang ada, tidak banyak kartu yang berisi pesan “mohon maaf atas perbuatan saya” dan itu pun letaknya di bagian terpencil dari toko itu. Ia membeli salah satu kartu tersebut dan memberikannya kepada sang teman yang ternyata bersedia menerima permintaan maafnya.
      Meski kartu permintaan maaf tidaklah populer, akan tetapi permintaan maaf sering dibutuhkan dalam relasi kita. Meminta maaf adalah perbuatan yang alkitabiah. Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk berdamai dengan mereka yang tersinggung karena perbuatan kita (Mat. 5:23-24; 18:15-20). Paulus berkata, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Rm. 12:18). Hidup dalam perdamaian kemungkinan besar memerlukan banyak permintaan maaf.
      Permintaan maaf adalah hal yang sulit untuk dilakukan karena diperlukan suatu sikap rendah hati untuk mengakui kesalahan kita, dan mungkin ini tidak serta-merta bisa kita lakukan. Meski demikian, bertanggung jawab dalam suatu situasi ketika kita bertindak salah dapat membawa kesembuhan dan pemulihan dalam suatu relasi.
Apakah Anda telah mengecewakan seseorang? Buanglah kesombongan Anda dan mintalah maaf—bahkan ketika Anda tidak dapat menemukan kartu untuk menolong Anda mengatakannya. —AMC
Kapan pun Anda menyinggung teman,
Mintalah maaf dan berdamailah;
Karena jika Anda mengakui kesalahan,
Anda terhindar dari pertengkaran yang sia-sia. 
Cara terbaik untuk berdamai adalah dengan meminta maaf.


Sabtu, 26 Mei 2012

Humor sejenak...mari senyum2.. ^_^



Humor disini dimaksudkan untuk, menambah sukacita, menambah gairah dalam pelayanan dan tidak dimaksudkan untuk memojokkan seseorang apalagi menyangkut sara.
 
JADILAH ORANG YANG FLEKSIBEL

Seorang pemuda yang akan berangkat ke ladang misi pamit kepada Pendetanya.
Pemuda: "Pak, tolong doakan, besok saya akan pergi ke ladang misi."
Pendeta: "Pergilah, Nak. Hati-hatilah di negeri orang, kau harus pandai bergaul, supaya banyak memenangkan jiwa."
Pemuda: "Bagaimana resepnya, Pak?"
Pendeta: "Ya, kalau kamu bertemu dengan tukang tahu, bicaralah soal tahu. Jika bertemu dengan tukang lontong, bicaralah soal lontong, dan jika bertemu dengan tukang sayur, bicaralah soal sayur."
Pemuda: "Bagaimana jika bertemu dengan ketiganya, Pak?"
Pendeta: "Ya, bicaralah soal gado-gado, Nak."
(Sumber: Manna Sorgawi)



MENCOBAI

Jono pengkhotbah muda. Dengan semangat Jono berkata,
"Kalau ditampar pipi kirimu, berikan pipi kananmu!"
Perkataan itu selalu di ulang-ulang dalam khotbahnya, sehingga Budi yang mendengar khotbahnya ingin menguji perkataan Jono.
Selesai khotbah Budi langsung menampar pipi kiri Jono dan Jono memberi pipi kanannya juga untuk ditampar.
... Dua hari kemudian Jono meninju muka Budi. Sembari menahan sakit, Budi protes kepada Jono: "Kok kamu membalasnya?"
Dengan santai Jono menjawab: "Apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai... dan bisa berlipat ganda"
(Sumber diedit dari kiriman: Jan Lian Tondang)

SEMAKIN BAIK

Seorang anak kecil berada di pangkuan opanya. Setelah memandangi pipi opanya yang sudah banyak kerutnya, si kecil Christo bertanya kepada opanya.
Christo: "Opa, apa Tuhan menciptakan Opa?"
Opa: "Ya, sayang. Tuhan menciptakan Opa beberapa puluh tahun yang lalu."
Christo: "Opa, apa Tuhan menciptakan Christo juga?"
Opa: "Tentu, sayang. Beberapa waktu kemudian Tuhan menciptakan Christo juga."
Christo: "Ternyata buatan Tuhan semakin lama semakin baik ya, Opa..."
(Sumber : Manna Sorgawi)

NYESEL SELANGIT
Kita memang tidak boleh menyesali apa yang sudah terjadi, tapi apa mau dikata, penyesalan selalu terjadi tanpa bisa kita cegah. Mari kita simak berapa lama kita menyesal kalau salah menentukan suatu pilihan.
Menyesal bermenit-menit kalau telat nonton konser
Menyesal berjam-jam kalau salah pilih kostum
Menyesal berhari-hari kalau salah makan
Menyesal berbulan-bulan kalau salah pilih pacar dan tukang cukur
Menyesal satu tahun kalau sering bolos sekolah
Menyesal lima tahun kalau salah pilih Presiden
Menyesal selama-lamanya kalau salah pilih "JALAN"...
("Aku inilah "JALAN" -- (Tuhan Yesus) dan kebenaran dan hidup......")
[Sumber diedit dari kiriman: Hari Prasetio]


 



Bukan aku Tapi Yesus

Jika ada 1.000 orang yang rindu kamu , aku ada didalamnya .....
Jika ada 100 orang yang menyayangimu pasti aku termasuk salah satunya ...
Jika ada 10 orang yang betul betul peduli kamu , percayalah salah satunya adalah aku ....
Tetapi jika ada 1 orang yang mau mati dan bangkit kembali untukmu , sorry itu bukan aku, tapi itu Jesus Kristus ....
Hanya Dia yang rela mati dan bangkit untukmu
(Sumber: Yunus-Solo)




ALLAH SAKIT

Setelah kebaktian Natal sekolah minggu selesai, Sita pulang dan dengan wajah sedih berkata pada ibunya, "Tuhan Allah sedang sakit keras, Bu."
"Mustahil," jawab ibunya, "Siapa yang mengatakan hal seperti itu kepadamu?"
"Tadi salah satu guru mengumumkan: 'Saya terpaksa menyampaikan kabar dukacita ini di tengah sukacita Natal pada kalian. Pagi ini Allah
memanggil salah satu guru sekolah minggu, yaitu Dokter Danu yang baik itu ke surga.'"(Sumber:E-Humor)

MELAYANI SAJA
Karena jengkel dengan kebandelan anak-anaknya, sebelum berangkat ke luar negeri, Pak Mario meninggalkan pesan yang ia kutip dari Matius
20:26. Dan begitu anak sulungnya membaca pesan itu, ia cepat-cepat mendekati adiknya.
"Hei, Bolly, kemarin kau bilang kau ingin jadi pembesar."
"Iya! Memang kenapa?" jawab adiknya. "Jadi pembesar kan enak. Tinggal perintah ini dan itu dengan jari telunjuk, lalu marah-marah dengan
kepalan di tangan."
"Bagus! Kalau begitu, tolong semirkan dulu sepatuku ini!"
"Ha! Apa hubungannya?"
"Nih, baca pesan Papa: Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu."
"Huuuh...!"
(Sumber : Senyum Sana-Sini )


KHOTBAH
Pendeta memberitahu jemaatnya, "Minggu depan saya merencanakan untuk berkotbah tentang dosa kebohongan. Untuk membantu anda memahaminya, saya ingin anda semua membaca Markus pasal 17."
Pada Minggu berikutnya, ketika bersiap menyampaikan kotbahnya, dia berkata, "Saya ingin tahu berapa banyak di antara anda telah membaca Markus 17."
Semua orang mengacungkan jarinya.
Pendeta itu tersenyum dan berkata, "Markus hanya memiliki 16 pasal. Sekarang saya akan memulai kotbah saya tentang dosa kebohongan."


sumber :http://www.sahabatsurgawi.net 












 


Jumat, 25 Mei 2012

MERASA BENAR

Published on Thursday, 24 May 2012 00:00 Written by Elisabeth Chandra
Baca: 1 Korintus 8:1-12

Jika ada orang yang menyangka bahwa ia mempunyai suatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah. (1 Korintus 8:2-3) 

 Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 23-25

     Seorang teman pernah mengeluhkan pemain basket dalam tim yang dilatihnya. “Memang mainnya bagus, tetapi main sendiri, tidak pernah memberi bola untuk yang lain,” jelasnya. Si pemain hebat begitu berpusat pada dirinya sendiri. Dalam pandangannya ia berbuat yang benar dengan menghasilkan poin demi poin bagi timnya, tetapi dari kacamata pelatih ia sedang mematikan semangat dan potensi yang ada dalam tim.

     Beberapa orang dalam jemaat di Korintus juga berpikir bahwa mereka sedang melakukan apa yang benar, menegaskan kemerdekaan orang percaya di dalam Kristus (ayat 4-6, 8). Namun, mereka tidak memperhatikan keberatan-keberatan nurani sesama saudara seiman. Tuhan tahu hati mereka (ayat 3). Jika mereka mengasihi Tuhan, mereka akan memikirkan bagaimana agar sikap mereka dapat membangun sesama umat Tuhan (ayat 1). Namun sebaliknya, karena mereka tidak punya kasih, pengetahuan mereka menjadi batu sandungan bagi orang lain. Betapa tragis jika seseorang merasa diri benar, tetapi ternyata ia telah berdosa di mata Tuhan (ayat 12).

     Semua orang yang percaya kepada Kristus akan menjadi saudara-saudara kita dalam kekekalan. Ada yang beribadah di gereja yang sama, ada yang berbeda. Ada yang kita jumpai setiap hari, ada yang hanya sebentar. Ada yang menyenangkan, ada yang menjengkelkan. Bagaimana ucapan dan tindakan kita kepada mereka jika dipandang dari kacamata Tuhan? Adakah Dia mengenal kita sebagai anak-anak-Nya yang mengasihi Dia? Satu tindakan kasih apa yang dapat kita lakukan untuk membangun saudara-saudara kita hari ini?—ELS 

PENGETAHUAN + KASIH = TINDAKAN MEMBANGUN




Minggu, 20 Mei 2012

BERKELUH KESAH


AddThis Social Bookmark Button
Baca: Ayub 7:1-21

Oleh sebab itu aku pun tidak akan menahan mulutku,  aku akan berbicara dalam kesesakan jiwaku, mengeluh dalam kepedihan hatiku (Ayub 7:11)


Bacaan Alkitab Setahun:
Hosea 1-4


Setiap kali Pendeta Matt selesai berkhotbah, David selalu menambahkan hal yang dianggapnya kurang atau tidak tepat. Mula-mula Matt bisa menerima. Namun, setelah 2 tahun dikritik terus, ia pun marah. “Apa maksudmu selalu mengkritik khotbahku?” tanya Matt. David kaget. Ia berkata, “Maaf, Pak Matt, saya tak bermaksud apa-apa. Saya orang Yahudi. Kami biasa memperdebatkan Alkitab. Setiap kali saya berharap Bapak menyanggah kritikan saya, supaya terjadi dialog yang menarik. Dari situ kita bisa makin akrab!”

Sejak dulu, orang Yahudi biasa berdialog terbuka kepada Tuhan maupun sesama. Saat berdoa, mereka berani membahas segala topik, termasuk yang tidak menyenangkan: kekecewaan, keluh-kesah bahkan kemarahan. Ini tampak dari syair-syair Mazmur, Ratapan, juga dari doa Ayub. Ia mengeluh karena hari-hari hidupnya terasa hampa dan sia-sia (ayat 1-7). Ia ingin segera mati (ayat 8-10). Ia menuduh Tuhan memberinya mimpi buruk waktu tidur (ayat 12-15). Ia kecewa Tuhan membuatnya menderita, padahal ia hidup baik-baik (ayat 20-21). Tidak semua perkataan Ayub benar. Belakangan Tuhan menegur kata-katanya yang “tidak berpengetahuan” (Ayub 38:2). Namun, keluh kesahnya didengar! Dengan jujur mencurahkan isi hati, Ayub dapat menghadapi kekecewaan dengan cara sehat. Ia tidak membenci Tuhan atau melukai diri sendiri.

Apakah Anda kecewa terhadap Tuhan, gereja, atau sesama? Daripada bersungut-sungut di depan orang, lebih baik curahkan isi hati Anda kepada-Nya. Bapa di surga tahu kegundahan hati Anda. Dia akan menghibur sekaligus menegur cara pandang Anda yang keliru. Damai pun akan kembali hadir di hati —JTI

BERKELUH-KESAH TIDAKLAH SALAH
ASAL DISAMPAIKAN KEPADA ALLAH